EVLN model On Job Unsatisfaction

 

Suatu hari saya bertemu kembali dengan kasir yang pernah saya ajar bulan lalu, dia datang ke kantor dengan pakaian bebas. Kemudian saya menyapanya, dan menanyakan ada keperluan apa dia datang ke kantor? Jawabannya sungguh mengagetkan, dia datang karena ingin mengundurkan diri. Sayapun menyambung pertanyaan, mengapa dia ingin mengundurkan diri? Ada banyak alasan yang dilontarkan tetapi saya menangkap inti pembicaraannya bahwa rekan saya ini merasa tidak puas. Terdapat banyak alasan yang menyebabkan seseorang merasa tidak puas pada saat bekerja yang berakhir pada keputusan untuk mengundurkan diri. Saya tidak akan panjang lebar membahas pertemuan tsb. Yang ingin saya sharing adalah respon dari seorang karyawan yang merasa tidak puas. terdapat banyak alasan mengapa karyawan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. berikut data perusahaan XXX alasan mengapa karyawannya mengundurkan diri. dengan komposisi alasan pengunduran diri sebagai berikut: tanpa keterangan 38%, pindah kerja 30%, melanjutkan study 18%, pribadi 12%, dan pindah ke perusahaan corporat 2 %. melihat data ini timbul dalam benak saya mungkinkah salah satu penyebab pengunduran diri para karyawan tersebut ada kaitannya dengan ketidakpuasan kerja? Untuk menelaah hal tersebut dibutuhkan penelitian khusus biasanya dengan melakukan survey kepuasan karyawan di tempat kerja, baik terhadap suasana kerja, atasan, lingkungan, rekan kerja,Dll. Pernahkah itu dilakukan di perusahaan ini? (kalau pernah mohon maaf atas ketidak tahuan saya)

Banyak perusahaan seperti Home Depot di kanada, Xerox, Sear dan organisasi lainnya memberi lebih banyak perhatian terhadap aspek job satisfaction dewasa ini. Bahkan Dalam beberapa perusahaan, bonus eksekutif sebagian tergantung pada penilaian atas kepuasan karyawan. Alasan untuk perhatian ini sangat sederhana: Job satisfaction mempengaruhi banyak perilaku individual. Untuk memahami konsekuensi dari job satisfaction terdapat apa yang disebut sebagai model Exit-Voice-Loyalty-Neglect (Disingkat: EVLN)

EVLN. Sesuai namanya, model ini mengindentifikasikan 4 cara yang digunakan karyawan dalam merespon ketidakpuasan:

  1. Exit. Exit merujuk pada meninggalkan situasi, termasuk mencari lowongan kerja yang lain. Secara aktual, meninggalkan organisasi atau beralih ke unit kerja yang lain. Khususnya bagi karyawan yang mempunyai peluang yang baik untuk memperoleh pekerjaan di tempat lain.
  2. Voice. Voice merujuk kepada suatu keinginan untuk mengubah daripada melarikan diri dari situasi yang tidak memuaskan. Voice sering ditemukan sebagai respon positif atau konstruktif, seperti misalnya secara langsung mecoba menyelesaikan masalah dengan management/atasan/rekan kerja atau tindakan secara aktif untuk memperbaiki situasi. Namun, voice juga bisa lebih confrontaly/bertentangan, seperti misalnya demonstrasi karyawan bahkan yang lebih ekstrim, beberapa karyawan mungkin turut serta dalam prilaku yang kontra produktif untuk menarik perhatian dan memaksa perubahan dalam organisasi. Dengan demikian voice mungkin dapat dilihat secara lebih hati-hati apakah konstruktif atau destruktif.
  3. Loyalty. Yang banyak menarik perhatian lebih luas adalah “loyalitas”, yaitu karyawan yang merespon ketidakpuasan dengan menunggu sebagai “Suffering in silence”, untuk keluhan dari problem kerjanya atau menunggu medapat penyelesaian dari orang lain.
  4. Neglect. Neglect termasuk didalamnya adalah pengurangan semangat kerja, pemberian perhatian yang kurang pada kualitas dan peningkatan absensi keterlambatan. Secara umum neglect dipertimbangkan sebagai aktivitas pasif yang memiliki konsekuensi negative bagi organisasi. Riset menetapkan dangan jelas bahwa ketidakpuasan karyawan cenderung menyebabkan tingkat absensi yang tinggi .

Dari keempat alternative EVLN tersebut yang mana akan digunakan oleh karyawan? Hal ini tergantung pada orang dan situasi. Satu faktor penentunya adalah ketersediaan alternative pekerjaan lain. Dengan prsopek kerja yang susah atau kecil, maka karyawan akan kurang menyukai pilihan exit. Karyawan yang memihak pada organisasi akan lebih menyukai menggunakan voice daripada exit. Personalitas adalah faktor lain yang berpengaruh terhadap tindakan pemilihan. Orang yang memiliki kesadaraan tinggi akan kurang suka untuk ikut serta dalam tindakan neglect dan akan lebih suka menggunakan voice. Beberapa ahli menyatakan bahwa karyawan memiliki perbedaan dalam perilaku EVLN tergantung pada apakah mereka memiliki kolektivisme tinggi atau rendah. Akhirnya, pengalaman masa lalu mempengaruhi pemilihan tindakan. Karyawan yang mengalami ketidaksuksesan dengan voice pada masa yang lalu akan lebih suka menggunakan exit atau neglect jika mengalami job unsatisfaction dimasa yang akan datang.

 job satisfaction adalah kunci sukses perusahaan. “Bersama tenaga kerja yang tidak bahagia anda tidak akan pernah menjadi besar” setelah membaca artikel ini bagi bawahan respon ketidakpuasan manakah yang biasanya kita lakukan, akan sangat tergantung dari situasi dan cara pandang kita dalam memaknai ketidakpuasan. Sekedar saran berdasarkan penglaman, lebih baik bagi kita untuk mengambil indakan Voice dengan cara yang santun sehingga kita menemukan Win-win solution dalam mengatasi ketidakpuasan kerja ini. dan bagi para atasan semoga artikel ini bermanfaat sebagai pengetahuan dan masukan dalam menyikapi ketidakpuasan kerja bawahannya.

Akhirkata ini hanyalah tulisan sederhana yang jauh dari sempurna, jika ada kata-kata yang tidak berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Terimakasih atas perhatiannya

Cileungsi, 3 September 2010

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.